Pengabdian

Indonesia, 70 tahun lalu merdeka. Salah satu tujuan negara ini yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, “Mencerdaskan kehidupan bangsa…”

Ya, itu tujuan negara Indonesia. Siapa sangka dari 0 Km Wilayah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Salah satu potret batas negara, di kampung Puri yang berbatasan darat dengan Negara Malaysia. Ironi sekali, katanya di negeri ini telah merdeka 70 tahun yang lalu. Namun, di sana tenaga pendidik tidak memadahi. Bahkan penjaga sekolah pun diminta untuk mengajar, namun gajinya tetap saja sebagai penjaga sekolah. Padahal di perbatasan negeri ini, mempunyai keindahan alam yang luar biasa siluet fajar di pagi hari dan di senja hari begitu menawan. Tetapi jarang terjamah.

siluet-orang-laki-bendera-merah-putih-langit-biru

Begitu semangatnya anak-anak di sana dengan segala keterbatasan pendidikan, sarana dan prasarana, akses transportasi yang memadahi, pelayanan kesehatan, perekonomian yang masih terbelakang. Bahkan untuk listrik saja belum tersedia. Untuk penerangan, mereka membeli solar di negara seberang sana, Malaysia dengan harga Rp. 13.000,00 per liter. Jika dibandingkan, dengan kampung sebelahnya di negara Malaysia, di Serawak. Perekonomian sudah sangat maju, kota yang begitu bersih. Jalanan tertata rapi, lurus. Sementara di Beranda Negara Indonesia? Ini hanya potret salah satu wilayah di perbatasan negara Indonesia. Krisis nasionalisme, bagaimana tidak, dilihat dari segi pendidikan, pelayanan kesehatan, ekonomi, dan akses transportasi lebih maju negara sebelah.

Dalam satu kampung Puri, ada yang memilih untuk mengenyam pendidikan di Malaysia, dengan fasilitas dan tenaga pendidik yang lebih memadahi. Sangat ironi bukan? Bagaimana nasionalisme di daerah sana? Yang generasi penerusnya mengenyam pendidikan di negara tetangga? Secara tidak langsung pun mereka mengikuti dan mempelajari nasionalisme di negara sana. (KompasTV, 16/8/2014)

Ada salah satu murid Sekolah Dasar di sana, menyeloteh kepada gurunya, “ Kenapa kampung sebelah lebih terang, Pak?”
“Itu bukan kampung nak, itu negara Malaysia.” Jawab guru tersebut. (@1000_guru)

Maka dengan mengetahui betapa terbelakangnya sarana dan prasarana di daerah perbatasan Indonesia, para pemuda membuat komunitas blogger yang bernama “Border Blogger Movement.” Hal tersebut dimaksudkan agar pemerintah tahu, di Indonesia terdapat potret wilayah perbatasan yang krisis nasionalisme dan keadaan yang jauh dari sejahtera di negara yang 70 tahun silam sudah merdeka.

sm3t

Dari fenomena tersebut, bagi yang jiwanya terpsnggil untuk mengabdi banyak program yang diadakan oleh pemerintah. Salathsatunya SM3T-RI alias Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal, Indonesia Menyapa dari program Kemenristek Dikti yang baru hangat-hangatnya diperbincangkan, Indonesia Mengajar, Indonesia Menyala, 1000 Guru dan sebagainya. Pengabdian itu hebat! Selain mengabdi untuk negeri, bisa menambah pengalaman baru dan menikmati keindahan alam Indaonesia di luar Jawa sana. Pendidikan itu penting, karena ilmu pengetahuan ada berkat pendidikan, maka dengan kata lain pendidikan dapat merubah keadaan NKRI naik dari segi ekonomi, sosial, budaya, maupun IPTEK. Sumber Daya Alam yang banyak dan melimpah akan sia-sia jika tidak dimanfaatkan secara bijaksana. Dengan Sumber Daya yang melimpah, maka diperlukan Sumber Daya Manusia untuk mengolahnya. Sangat disayangkan melihat saudara-saudara kita di perbatasan yang minim akan fasilitas.

Pengabdian itu dari hati tidak mengharap imbalan. Selama masih bisa membantu orang lain atau berkontribusi untun negeri ini kenapa tidak? 🙂

After all, menulis itu keren jangan malu / takut menyuarakan aspirasi lewat tulisan.

 

A writer writes, if you want to be a writer, write.
– Regina Brett